SALAH SATU KONSEP MEMBIMBING ANAK


( Hermadi, S.Pd )

Setiap orangtua tentu mempunyai keinginan yang sama terhadap anak-anaknya, yaitu supaya berhasil dalam sekolahnya dan dikemudian hari mendapatkan pekerjaan yang memadai. Tidak hanya itu, tetapi juga mempunyai tingkat penghidupan yang melebihi orangtuanya. Baik dalam hal martabat maupun juga status social ekonominya. Namun harapan itu tentulah tidak mudah terlaksana mengingat banyak faktor yang mempengaruhi perjalanan pendidikannya. Untuk memudahkan si anak mengerti tentang tugas dan kewajibannya sebagai seorang anak dan juga sebagai seorang pelajar, cobalah tanamkan pengertian itu dengan disertai penggunakan waktu secara efisien dan berkelanjutan.

Setiap orang sejak bangun tidur dipagi hari sampai menjelang tidur dimalam hari, dan bahkan tidurnyapun, membutuhkan anggaran atau biaya. Tidak ada seorangpun yang dapat hidup enak ditengah-tengah masyarakat dengan tanpa memerlukan anggaran. Pagi hari sewaktu mandi kita memerlukan handuk, sabun, pasta gigi, dan lain-lain, kesemuanya dari hasil membeli. Bahkan ada juga ditempat tertentu air saja harus dibeli dengan uang. Makan pagi-siang-malam, dan juga tambahan kebutuhan makan yang lain juga didapat dari hasil membeli. Pakaian sekolah yang bermacam-macam, pakaian harian- bermaian, pakaian bepergian, dan lain-lain kesemuanya dari hasil membeli. Perlengkapan/perhiasan yang dikenakan juga hasil membeli. Kebutuhan untuk tidur, dipan kasur, bantal guling, selimut, sampai obat nyamuk dari hasil membeli. Belum ditambah kebutuhan lain yang termasuk kebutuhan sekunder, atau bahkan diatas kebutuhan sekunder atau kebutuhan mewah, semuanya didapat dari hasil membeli. Tidak ada yang dating dengan sendiriny dan gratis begitu saja.

Cobalah beri pengertian pada diri anak tentang pengertian diatas. Jelaskan kemudian bahwa untuk saat ini semua itu tidak diketahui dan disadari oleh si anak. Karena semua kebutuhan sudah dicukupi oleh orang tua. Anak tinggal enak-enak menikmati segala fasilitas dan pemberian orangtua yang didasari pada perasaan cinta kasih orang tua terhadap anak. Selagi anak masih belum dewasa hal itu wajar, karena memang anak merupakan amanat yang harus dipelihara sampai si anak tersebut dewasa. Apalagi kalau orangtuanya termasuk orang berada atau berkecukupan. Bahkan lebih dari itu, setelah dewasapun selagi orangtuanya masih ada ( berumur panjang ) si anak tetap memerlukan bimbingan dari orangtua.

Dan selaku orang tua merasa dituntut untuk memberikan apa yang terbaik buat anak-anaknya. Tetapi kadang banyak anak yang tidak mau tahu terhadap segala bimbingan orangtuanya. Maka benar seperti bunyi ungkapan peribahasa yang mengatakan ” kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang galah ” Artinya kasih dan hati orang tua itu selalu menyertai dimanapun anak itu berada, tetapi sebaliknya si anak jarang yang meluangkan waktu untuk balas memikirkan dan membantu kesulitan orangtuanya. Apalagi jika sudah berkeluarga. Seakan-akan terpisah dari kewajiban memelihara ( memikirkan ) orang tua.

Nah … bagaimana jika seandainya orangtua dalam keadaan cukup, atau bahkan kurang, … dan lebih lanjut lagi jika nanti orangtua sudah tidak bekerja lagi ( pensiun ) ..? dapatkah anak akan terus terjamin kehidupannya …. ?

Tentu saja tidak ! Si anak itu sendiri yang nantinya akan dan harus mencukupi kebutuhannya sendiri. Apalagi kalu nantinya sudah membentuk keluarga. Keluarga itulah yang nantinya harus berusaha mencukupi kebutuhan keluarga sendiri.

Beri pengertian terhadap anak bahwa kita senantiasa bersyukur karena dapat berkesempatan untuk diberi dan menikmati apa yang Allah SWT berikan kepada kita, yang menyebabkan kita bisa merasakan hidup enak seperti yang kita alami. Coba si anak kita ajak menengok kehidupan anak sisi lain yang kita jumpai di terminal, di pasar, di perempatan jalan, dan ditempat-tempat strategis tertentu. Betapa kita ikut merasakan kehidupannya yang penuh dengan liku-liku penderitaan. Mendapatkan sesuap nasi untuk menyambung nyawa mereka terpaksa harus meminta-minta mengemis dan mengamen. Hal ini bukan karena orangtua tidak memelihara dan merawatnya, tetapi karena orangtuanyapun juga mengalami kesulitan yang sama.

Nah kalau si anak sudah bisa menerima dan meresapi gambaran yang kita berikan kepadanya, maka baru kita sampaikan harapan dan keinginan kita sebagai orang tua terhadap anak, anatara lain :

1. Rajin belajar supaya tercapai cita-citanya
2. Berakhlaq dan bertaqwa kepada Allah SWT.
3. Berbakti kepada orangtua
4. Bermanfaat bagi sesamanya, nusa, bangsa, dan agama.
5. Mempunyai sifat dan sikap ksatria, serta mempunyai rasa tanggung jawab

Untuk menunjang keinginan dan harapan tersebut sebagai orang tua kita coba untuk sering memberikan pengertian kepada anak di setiap kesempatan, antara lain :

1. Pada waktu anak kita ajak makan diwarung/restoran biarkan anak tersebut makan sepuasnya dengan menu makanan sesuai dengan kesukaanya. Setelah selesai makan kita beri pengertian bahwa itu semua bisa kita nikmati karena bekerja dan mendapatkan uang. Sedangkan orang yang tidak bekerja tidak akan mendapat uang. Kalau kelak nanti ingin kebutuhan tercukupi, maka harus bekerja agar mendapatkan uang. Untuk mendapatkan uang yang halal maka harus bekerja yang halal pula. Supaya nantinya mendapatkan pekerjaan yang halal maka dari sekarang harus belajar yang rajin dan mempunyai cita-cita yang terpuji. Jangan lupa bahwa bimbingan tersebut kita sampaikan dengan didasari rasa keimanan dan ketaqwaan, yaitu berbuat dan berdo’a. Justru do’a itulah yang Insya Allah akan menuntun dan menerangi langkah-langkah kita.

2. Sediakan tempat belajar yang memadai, baik dari segi tempat maupun penerangan. Beri pengertian waktu untuk belajar paling tidak 2 jam setiap hari. Kalau perlu arahkan anak tersebut untuk membuat alokasi waktu, dan melakukan kegiatan/pekerjaan sehari-hari sesuai dengan alokasi waktu yang dibuatnya. Pengertian ini lebih baik lagi kalau kita lakukan sejak anak masuk usia sekolah. Sebab kebanyakan kebiasaan belajar inilah yang jarang dilakukan oleh anak kita walaupun anak kita sebagai pelajar. Dan kita sebagai orang tua juga jarang yang mengarahkan pada kebiasaan itu. Sehingga tidak mengherankan apabila anak rajin belajarnya hanya kalau akan menghadapi ulangan. Belajar secara rutin akan membuat si anak lebih cepat dan mudah mengerti dibandingkan dengan kalau belajarnya setiap akan menghadapi ulangan. Ingat akan ungkapan ” Ala bisa karena biasa ” , jadi pelajaran yang semula dianggap sukar kalau sering si anak tersebut mencari pemecahannya, maka lama-lama menjadi mudah. Apalagi kalau anak tidak segan-segan bertanya pada gurunya.

3. Jangan diberi tanggungjawab/beban pekerjaan dirumah yang berlebihan karena hal itu akan menyebabkan anak merasa lelah pada waktunya belajar. Tetapi juga jangan lantas kita biarkan dan tidak kita beri tanggung jawab pekerjaan dirumah sama sekali. Beri tanggung jawab pekerjaan yang ada unsur mendidik, misalnya : merapikan tempat tidur sendiri, mengemasi perlengkapan/perabot belajarnya sendiri, mengatur dan menata/membersihkan ruang belajarnya sendiri. Konsep ini kelak akan menuntun anak dapat memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri.

4. Jangan menyita waktu bermain anak sepanjang anak tersebut memang menggunakan waktu yang tepat untuk bermain. Tetapi sebaliknya jangan biarkan anak bermain tidak pada waktunya. Misalkan bukan waktu libur anak kita biarkan bermain sehingga mengabaikan waktu belajar.

5. Jangan mematikan kreasi anak dalam mengembangkan hoby dan bakatnya sepanjang hoby dan bakatnya positif. Misalnya anak gemar menyanyi, gemar bermain gitar, gemar bermain sepakbola, gemar bermain catur, gemar menggambar, dan lain-lain. Sebab kegemaran tersebut bagi anak merupakan hiburan tersendiri untuk mengiringi waktu luangnya. Sebab siapa tahu dari kegemarannya itu timbul bakat yang kelak akan dapat menopang/membantu langkah karier perjalanan kehidupannya.

6. Berikan pengertian dan bimbingan keagamaan sesuai dengan yang dianut. Bimbinglah untuk melaksanakan sholat lima waktu sesuai dengan syari’at Islam ( kebetulan penulis beragama Islam ) supaya hal itu menjadi kewajiban yang tidak dirasakan sebagai beban. Bahkan lebih baik lagi jika kita biasakan untuk menjalankan sholat sunnah, seperti tahajjut, hajat, dan disertai dengan tuntunan do’a-do’anya. Kewajiban/kebiasan ini akan menuntun/menumbuhkan, dan mempertebal rasa keimanan dan ketaqwaaan yang tinggi terhadap Allah SWT, dan Insya Allah didalam kehidupannya senantiasa mendapatkan hidayah, inayah, dan barokah dariNya

Itulah sekedar saran yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua, terutama orangtua yang berada dalam kesulitan bagaimana cara mendidik anak. Segala yang baik datangnya dari Allah SWT sedangkan yang tidak baik datangnya dari penulis pribadi. Karenanya jika ada kesalahan mohon untuk dimaafkan. Mudah-mudahan anak-anak kita senantiasa mendapat hidayah dan barokah dari Allah SWT, menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orangtua, pada agama, pada nusa bangsa, dan bermanfaat bagi sesamanya. Amin.



Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

UNDANGAN REUNI UNTUK PAK GURU



( Hermadi,  S.Pd )

Sampai didepan pintu pagar, langkahku terhenti sejenak. Kutatap rumah sederhana didepanku, rumah guruku. Rumah ini dulu akrab kusinggahi. Ternyata tak ada yang berubah. Selalu di cat warna putih, … warna kesayangan guruku. Tetapi kali ini warna itu kelihatan agak kelabu, .. warna putih yang bercampur debu. Rumah yang kukenal itu, … keadaannya sekarang bertambah kumuh. Bahkan seperti hampir runtuh.  Dulu masih kelihatan rapi, tembok masih kelihatan bersih, ..…tetapi kini seperti tak terawat lagi.

 

Halaman depan sedikit nampak berbeda. Tanaman hias yang dulu tidak ada, … kini subur menghiasi sudut pagar depan candela kamar. Tempat itu dulu kolam kecil untuk ikan lele … katanya bisa di panen setiap tiga minggu sekali, pengiritan,  lumayan buat lauk makan.

Sepi … sepi … rumah ini nampak sepi. Tembok retak disana-sini, … seakan rumah tak berpenghuni. Sementara disekitarnya sudah jauh berbeda. Disana-sini rumah sudah dibangun dan direnovasi.

Kulanjutkan langkahku …. Sampai didepan pintu … aku agak ragu mengetuknya. Dalam hati aku bertanya, … apakah betul masih rumah guruku … ? Kaca cendela yang kotor … selambu gordeyn yang sobek … daun pintu yang rusak, …. ? ….. apa betul ini rumah guruku…? Guru yang dulu mengajar aku … ? guru yang pantas digugu dan ditiru ….?

Aku masih ingat ketika guruku memaknai peribahasa “ Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, kenyang pangkal berak”. Ingat betul ketika mengajarkan setiap anak agar “mikul dhuwur mendhem jero” terhadap orang tua. Masih ingat lawakan-lawakannya didepan kelas. Masih ingat sisipan nasehat-nasehatnya disela-sela menyampaikan pelajaran.

Pak Guru, ….mungkin kamu sudah lupa padaku, … tetapi nasehatmu penuh makna. Mungkin nasehat itu yang membuat aku saat ini “sowan” pak guru. Nasehat itu yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang ditelingaku.

Guruku.
Kubandingkan dengan keadaanku saat ini. Rumah jauh lebih bagus. Alhamdulillah … mobil punya dan kubawa, keluarga sehat sejahtera tanpa kekurangan. Seketika itu ingat akan nasehat pak guru … “ Belajar yang rajin untuk masa depanmu “. Dan sekarang …. ? apa yang diinginkan pak guru tentang masa depan itu sudah ada padaku. Jauh berbeda dengan keadaanmu wahai guruku. Rumahmu kelihatan bagus dulu dari pada sekarang. Sungguh … diluar yang kubayangkan.

Namun disela-sela lamunanku, … aku kagum pada guruku. Kubayangkan pak guru masih tetap tegar dan asyik mengajar. Kubayangkan pak guru masih tetap semangat menasehati anak-anak untuk masa depan. Oooh … pak guru … kau perjuangkan nasib anak-anak orang … kadang anakmu sendiri terabaikan. Kau pernah beri ilmu padaku sementara kamu sendiri tak punya ilmu untuk menata ekonomimu. Tetapi kau ikhlas menjalani semua ini … meniti hari demi hari. Murid-muridmu silih berganti, … dan kau seakan berhenti dijalan ini … kesederhanaan yang abadi. Teringat olehku syair lagu ” pahlawan tanpa tanda jasa ” … dan tanpa kusadari … bibirku menyanyikan syair lagu itu. Baru berhenti ketika tiba-tiba seorang ibu membuka pintu. Ooh … tidak salah … ini isteri guruku.

UNDANGAN REUNI yang ada ditasku segera kuambil dan kuberikan dengan penuh rasa hormat pada ibu itu, … isteri guruku, … ternyata memang sudah lupa padaku. Parasnya tidak jauh berubah, tetapi lebih cantik paras isteriku.

Pak guru, …. sampai kapanpun aku menghormatimu. Kadang aku berpikir, … kehidupanmu tidak sebanding dengan ilmumu. Nasehatmu memang terngiang-ngiang di telingaku, … tetapi kehidupanmu merupakan bayang-bayang yang menakutiku. Salam hormatku untuk pak guru. Yaa Allah .. beri rahmat dan hidayah kepada semua bapak ibu guruku. Amin.

( Cerita ini ditulis dari curahan hati salah seorang murid tahun pelajaran 1989/1990 pada penulis 3 tahun yang lalu, …. dan ketika itu guru belum mendapat tunjangan profesi )

Terima kasih kepada Pemerintah yang telah memberikan tunjangan profesi guru. Semoga kehidupan keluarga bapak/ibu guru bisa sejahtera dan lebih maju. Di pundakmu terbeban pertanyaan bagaimana supaya pendidikan bisa lebih maju. Jawabannya adalah pekerjaanmu.

===hmd===

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar