MARILAH BERPIKIR POSITIF


( Hermadi, S.Pd )

Assalamu’alaikum wr. wb.

Betapa sering kita terbelenggu oleh pikiran yang negatif. Pikiran yang selalu membawa kita pada kondisi yang tidak nyaman. Berawal dari membanding-bandingkan orang sampai dengan membanding-bandingkan kekayaan. Berawal dari membanding-bandingkan keadaan sampai dengan membanding-bandingkan kedudukan. Mulai dari menilai sipat dan sikap kawan sampai dengan mencari kelemahan dan kesalahan. Mulai dari memojokkan kawan sampai dengan menghantam dan mematikan. Dan pada giliran yang terakhir, pikiran lelah, resah dan gelisah, buntu mencari jalan keluar.

Kuatnya rasa curiga membuat prasangka yang bukan-bukan. Apalagi kalau nasib baik sedang tidak berpihak kepada kita. Penasaran yang memuncak didorong hati yang kecewa membuat segan dan malas berpikir secara sehat. Kebiasaan berpikir negatif siang dan malam membuat tertawapun nyaris tak ada. Kalau toh tertawa itupun karena terpaksa. Padahal tertawa itu sehat dan menyehatkan. Alangkah menderitanya kita ..?

Memang biasanya disela-sela itu ada suara-suara yang mengajak kita untuk merobah pola pikir yang lebih baik. Tetapi seolah berpikir negatif itu sudah merupakan reaksi tradisi dari “ hasil pikir “ apa yang kita ketahui dan alami sehari-hari. Kejadian yang menimpa kita anggap pahit dan menyiksa hati. Sedikit demi sedikit, tetapi pasti, rasa iba dan rendah diri menyelinap masuk ke sanubari, membentuk rasa kecewa dan sakit hati. Akal sehat tidak selalu dapat ditampilkan untuk menangkal dan menangkis penyakit kronis si “ sakit hati “. Bila kondisi sudah begini, maka inilah penderitaan !!! inilah kesengsaraan !!!

Apalagi jika kita membandingkan dan menganggap hidup kita dibawah orang yang sederajat dan seangkatan. Maka meratapi nasib dan nasib menjadi kebiasaan yang tak mudah sirna.  Bahkan  pertanyaan yang menggema dan tidak terhindarkan adalah … Yaa Allah .. dimanakah letak kebahagiaan ?

Padahal … apakah betul begitu? Apakah betul kita sengsara dan menderita ?

Jawabnya adalah TIDAK !!!

Kita bisa merasa bahagia … mengapa pilih merasa sengsara ..?

Kita bisa merasa senang hati … mengapa pilih yang sakit hati .. ?

Bahagia dan sengsara, senang dan sakit, semua tergantung dari pola pikir yang kita jalankan. Mau terus berpikir negatif, atau berpikir positif.

Cobalah kita renungkan !!!

Mengapa pikiran negatif sepanjang hari sangat kuat mencengkeram otak kita sehingga sulit menjalankan pola pikir yang positif ..? Manakala kita sadar dan berniat untuk berubah, mengapa itu sulit dilakukan ..? Benarkah otak kita telah di-setting untuk mengedepankan kecurigaan yang berbuntut was-was terhadap segala bentuk perubahan dan kejadian ?

Berpikir negatif tidak akan menghasilkan buah yang positif. Kita tidak mendapatkan manfaat apapun dari pola pikir yang negatif. Bahkan kita dapat menderita penyakit yang ngeri sekali, yaitu mengidap “ penyakit rohani dan jasmani “. Kalau sudah begini, maka peluang untuk merasakan hidup senang menjadi sempit sekali. Penderitaan yang kita alami menjadi penderitaan abadi karena tak mudah di obati.

Tanpa disadari mudah sekali terperangkap dengan aneka pikiran yang negatif. Sering kita tak kuasa menolaknya untuk hadir. Saat kondisi tertentu, pikiran negatif tiba-tiba menyusup masuk ke dalam pikiran kita. Dan baru sadar setelah beberapa saat kemudian. Pikiran negatif membuahkan rasa iba diri sendiri dan rasa iri pada orang lain. Pikiran negatif terjadi karena kita tidak mau, atau bahkan malu untuk menerima kenyataan yang ada. Kita selalu beranggapan orang lain lebih baik, lebih enak, lebih kaya, lebih sejahtera, lebih sukses, dan lain-lain. Yaah semua yang lebih ada pada orang lain, sementara semua yang kurang kita anggap selalu ada pada kita. Pikiran negatif yang ada pada diri kita biasanya bisa terjadi karena pendidikan ( dari orang tua ), karena kurangnya pengetahuan, dan bisa terjadi karena pengalaman. Pengalaman yang buruk membuat kita takut bangkit maju kedepan. Kegagalan membuat takut untuk mengalami kegagalan yang sama. Pikiran negatif bisa membuat kita kecanduan. Jika terus terbiasa dengan pikiran negatif, maka kita kecanduan membutuhkannya. Akibatnya segala hal akan mudah kita lihat dari kacamata negatif.

Kita terjebak dalam pikiran negatif dan sulit keluar karena biasa memilihnya menjadi pikiran yang paling nyaman berada di otak kita. Keburukan lebih mudah kita temukan dibanding kebaikan. Apalagi memilih pikiran positif kerap melahirkan tanggung jawab yang tidak ringan, sedangkan memilih pikiran negatif tidak sama sekali.. Saat kita sadar bahwa suatu pekerjaan memerlukan kesungguhan dan kerja keras, kita jadi enggan untuk melakukannya. Dan berbagai pernyataan negatif—sebagai perwujudan pikiran negatif—mudah keluar dari mulut kita. Padahal semua itu karena kita enggan dan malas untuk mengerjakan. Berarti kita lari dari tanggung jawab!

Kita punya kebebasan untuk memilih pikiran apa yang akan kita pasang di otak kita. Mari mulailah menerima dan melaksanakan tanggung jawab atas hidup kita. Berusahalah untuk berpikir positif.
Kalau kita saat ini sedang sedih, hal itu karena kita pikiran kita sendiri yang membuatnya sedih. Jika ada masalah yang tengah menghadang, kita harus bisa bertanggung jawab untuk menyelesaikannya, dengan pikiran positif. Jika seseorang membutuhkan bantuan, maka kita berkewajiban membantunya. Sebaliknya jika kita memerlukan bantuan, maka kita cari kawan yang bisa membantunya. Kalau kita ingin mempunyai kawan, maka harus pandai menarik dan mengundang mereka agar nyaman bersama kita. Kalau kita benci dengan keadaan saat ini yang penuh kekurangan, maka kita harus segera berbuat untuk mengakhirinya. Sebab, sukses tidak datang begitu saja pada diri kita, tanpa kita sendiri yang mengusahakannya.  Mengeluh adalah bentuk penolakan tanggung jawab. Dan sikap menyalahkan orang  lain hanyalah cara lain untuk menjauhkan dari tanggung jawab. Terimalah apa adanya.
Marilah dan mulailah  berpikir positip. Sebab berpikir positif jauh lebih nikmat dan bermanfaat. Disamping senantiasa bersyukur pada Illahi juga dapat menikmati nikmatnya hidup ini. Syukurilah  keadaan yang ada pada diri kita. Sebab hal itu membuat kita lega bernafas dan lapang dada. Penyakit kronis “ iri “ dan “ sakit hati “ jangan biarkan nenyelinap dilubuk hati. Singkirkan dengan ketaqwaan dan keimanan.

Bila di waktu mendatang kita terjebak dalam pikiran negatif, STOP dan tanyakan pada diri sendiri, apakah ingin menghindar dari tanggung jawab atas kenyataan yang terjadi, atau menerima tanggung jawab untuk berjuang dan mengatasi. Keputusan ada pada diri kita sendiri. ingin terjerumus kedalam jurang “ sakit hati “, atau ingin terbang hinggap di “ senang hati “ yang membawa kita merasakan nikmatnya hidup ini. Dengan senang hati ( bersyukur ) berarti kita sudah bertindak untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik.

Mari dengan akal budi dan nurani, kita gunakan pikiran ini untuk bertanggung jawab membawa  kita pada hidup yang sejahtera dan lapang hati. Mudah-mudahan Allah SWT melimpahkan rasa sabar, nikmat, dan puas hati  dalam kehidupan kita sehari-hari,  sehingga kita tidak menjadi umatNya yang menderita sakit jasmani dan sakit rohani. Amin

Wassalmu’alaikum wr. wb.

Iklan

Tentang s4mr3h

1. Nama : Hermadi, S.Pd 2. Tempat/tanggal lahir : Surakarta, 1 April 1957. 3. Pendidikan : S1 ( Tehnik Elektro, UNNES, Tahun 2002 4. Guru SMP 1 Wonopringgo Kabupaten Pekalongan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s